Langsung ke konten utama

Desain Model Pembelajaran


Desain Model Pembelajaran

A.    Pengertian desain pembelajaran
Menurut Dick and Carey dalam Mudhofir (2016:1) menyatakan bahwa desain pembelajaran merupakan mencakup seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem yang terdiri dari analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Mudhofir (2016:1) menyatakan bahwa desain pembelajaran merupakan prosedur kerja yang digunakan dalam proses pembelajaran agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara baik dan menghasilkan output yang baik.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan sintaks sehingga pelaksanaannya terstruktur dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

B.     Kriteria desain instruksional
Menurut Sanjaya (2008:67-69) menyatakan bahwa desain intruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan peserta didik untuk mempelajari suatu materi pembelajaran yang di dalamnya mencangkup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan. Desain instruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria sebagai berikut:
1.   Berorientasi pada peserta didik; sistem pembelajaran peserta didikmerupakan komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah peserta didik belajar. Proses perencanaan dan pengembang dapat dilihat dan dipahami dahulu beberapa hal tentang peserta didik, antara lain:
a.       Kemampuan dasar
Pemahaman kemampuan dasar yg dimiliki peserta didikperlu dipahami untuk menentukan dari mana sebaiknya kita mulai mendesain pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajaran yg harus dicapai selamanya disesuaikan dengan kemampuan yg telah atau harus dimiliki terlebih dahulu oleh setiap siswa. Sehingga desain pembelajaran dirancang sesuai dengan potensi dan kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan kata lain desain tidak dirancang semata-mata oleh kemauan guru saja.
b.      Gaya belajar
Gaya belajar ada 3 tipe, yakni tipe auditif, tipe visual, dan tipe kinestetis. Peserta didikyg bertipe auditif akan dapat menangkap informasi lebih banyak melalui pendengaran. Dengan demikian maka desain pembelajaran dirancang agar peserta didikbanyak mendengar melalui berbagai media yang dapat di dengar seperti radio, recorder, video dan lain-lain.
2. Bepihak pada pendekatan sistem; melalui pendekatan sistem dapat mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
3.   Teruji secara empiris; desain instruksional harus teruji dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.

C.     Model-model desain intruksional
Perencanaan pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya  memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa, hal ini sejalan dengan pendapay yang dikemukakan oleh Zook dalam Sanjaya (2008:71) bahwa desain intruksinonal adalah a systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli. Berikut ini beberapa model desain pembelajaran yang dimaksud menurut Sanjaya (2008:71-77), yaitu:
1.      Model Kemp
Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model Lemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp, yaitu sebagai berikut:
a.       Hasil yang ingin dicapai
b.      Analisis tes mata pelajaran
c.       Tujuan khusus belajar
d.      Aktivitas belajar
e.       Sumber belajar
         f.       Layanan pendukung
         g.      Evaluasi belajar
         h.      Tes awal
         i.        Karakteristik belajar
Kesembilan komponen tersebut merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi dan dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
2.      Model Banaty
Model desain sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
a.       Menganalisis dan merumuskan tujuan
b.      Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
c.       Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar
         d.       Merancang sistem
         e.       Mengimplementasi dan melakukan kontrol kualitas sistem
         f.        Mengadakan  perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
Tahap 1 sampai dengan 4 merupakan tahapan dalam proses perencanaan, sedangkan tahap 5 sampai dengan 6 adalah tahap pelaksanaan dari perencanaan yang sudah dirumuskan.
3.      Model Dick and Cery
Seperti desain model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal peserta didikterlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya  dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya  tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran. Langkah akhir dari desain adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi sumative. Berdasarkan hasil evaluasi inilah selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
4.      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan  perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru melaksanakan proses  belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap, yaitu sebagai berikut:
a.      Merumuskan tujuan; yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa.
b.   Mengembangkan alat evaluasi; yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan.
c.   Mengembangkan kegiatan belajar mengajar; yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
d.    Mengembangkan program kegiatan pembelajaran; yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
e.  Pelaksanaan program; yakni kegiatan mengadakan pra-tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psi-kotes, dan melakukan perbaikan.

D.    Hubungan perencanaan dan desain pembelajaran
Perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Perencanaan pembelajaran dapat berupa perencanaan perhari, perminggu, persemester, pertahun sesuai dengan tujuan kurikulum yg hendak dicapai.
Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa. Dengan demikian, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran adalah kurikulum yang berlaku di suatu lembaga. Sedangkan, pertimbangan dalam menyusun dan mengembangkan suatu desain pembelajaran adalah peserta didikitu sendiri sebagai individu yang akan belajar dan mempelajari bahan pelajaran. Artinya ketika kita akan menyusun dan mengembangkan sebuah perencanaan pembelajaran, maka kita perlu bertanya terlebih dahulu bagaimana desain kurikulum yang ada di lembaga pendidikan. Sedangkan, kalau kita menyusun dan mengembangkan sebuah desain pembelajaran kita perlu bertanya bagaimana agar peserta didikdapat mempelajari suatu bahan pelajaran dengan mudah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Kebutuhan

Analisis Kebutuhan A.     Pengertian analisis kebutuhan Menurut Habibi (2015:1) menyatakan bahwa kebutuhan merupakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Hal ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Kaufan dalam Sihombing dan Marni (2012) menyatakan bahwa analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik sehingga pendidik mampu memenuhi kebutuhan tersebut. B.      Fungsi analisis kebutuhan         Menurut Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan, yaitu sebagai berikut: 1.    Mengidentifikasi...

Komponen Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran

Komponen Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran A.     Konsep perencanaan sistem pembelajaran 1.       Pengertian perencanaan pembelajaran Menurut Affandi (2009:147) perencanaan merupakan proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Sama halnya dengan pembelajaran yang juga membutuhkan suatu perencanaan, agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Menurut Affandi (2009:149) menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara berbagai unsur atau komponen yang ada didalam pembelajaran. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Banghart dan Trull dalam Affandi (2009:148) yang menyatakan bahwa perencanaan merupakan awal dari semua proses yang rasional, dan mengandung sifat optimisme yang didasarkan atas ke...