Analisis
Kebutuhan
A. Pengertian
analisis kebutuhan
Menurut
Habibi (2015:1) menyatakan bahwa kebutuhan merupakan segala sesuatu yang
dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh
kesejahteraan dan kenyamanan. Hal ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh
Kaufan dalam Sihombing dan Marni (2012) menyatakan bahwa analisis kebutuhan
dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode
yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan
harapan.
Berdasarkan
pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan merupakan suatu cara
yang dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan oleh peserta
didik sehingga pendidik mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
B. Fungsi
analisis kebutuhan
Menurut
Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan, yaitu sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas yakni masalah apa yang
mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang mengganggu pekerjaan atau lingkungan pendidikan.
3. Menyajikan
prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.
4. Memberikan
data basis untuk menganalisis efektivitas pembelajaran.
C. Langkah-langkah
analisis kebutuhan
Analisis
kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan yang diawali oleh kegiatan
mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan masalah. Adapun tahapan
dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
1. Pengumpulan
informasi
Merancang
pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu
informasi tentang peserta didikdapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa
yang akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana
pengaruh keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang
dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta
skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
2. Identifikasi
kesenjangan
Identifikasi
kesenjangan menurut Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi
kesenjangan melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM,
Kaufman menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen
pertama, yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi
dan sumber yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan
outcome merupakan hasil akhir dari suatu proses. Kategori kebutuhan seperti
yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman, yaitu sebagai berikut:
a. Input
b. Proses
c. Produk
d. Output
e. Outcome
Komponen
input, meliputi kondisi yang tersedia pada saat ini misalnya tentang keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar,
kebutuhan, problem, tujuan, materi kurikulum yang ada. Komponen proses,
meliputi pelaksanaan pendidikan yang berjalan yang terdiri atas pola
pembentukan staf, pendidikan yang berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan,
metode, pembelajaran individu, dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk,
meliputi penyelesaian pendidikan, keterampilan, pengetahuan dan sikap yang
dimiliki, serta kelulusan tes kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah
kelulusan, keterampilan prasyarat, lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan
dan kontribusi individu atau kelompok saat ini dan masa depan. Outcome
merupakan hasil akhir yang diperoleh. Melalui analisis hasil, desainer dapat
menentukan sejauh mana hasil yang diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian
tujuan. Inilah proses yang pada hakikatnya menentukan kesenjangan antara
harapan dan apa yang terjadi. Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat
mendeskripsikan masalah dan kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses,
produk, dan output.
3. Analisis
performance
Tahap
ketiga dalam proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance.
Menganalisis performance dilakukan
setelah desainer memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan
adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat
dipecahkan melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan
dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan
struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan
dan alat-alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor-faktor
penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada
saat need assessment berlangsung. Analisis performance meliputi:
a. Mengidentifikasi
guru
b. Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
c. Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
d. Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
Selain
semua unsur tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya
penerapan hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru
maupun siswa.
4. Identifikasi
hambatan dan sumber
Tahap
keempat dalam need assessment adalah
mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta sumber-sumbernya. Dalam
pelaksanaan suatu program berbagai kendala
bias muncul sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran suatu
program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu fasilitas, bahan, pengelompokan
dan komposisinya, pilosofi, personal, dan organisasi. Sumber-sumber kendala
bisa berasal dari pertama, orang yang terlibat dalam suatu program
pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan peserta didikitu sendiri.
Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat atau pandangan yang
terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang dimilikinya. Kedua,
fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi
ketersediaan dan kelengkapan fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga,
berkaitan dengan jumlah pendanaan beserta pengaturannya
5. Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap
kelima dalam need assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam
desain pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa,
oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan peserta didikadalah bagian dari
need assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan peserta didikdi
antaranya adalah tentang usia, jenis
kelamin, level pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya
belajar, pengalaman dan sikap. Karakteristik peserta didikseperti di atas, akan
bermanfaat ketika kita menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan
penggunaan strategi pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan
teknik evaluasi yang relevan.
6. Identifikasi
prioritas
Kaufman
(1983) mendefinisikan need assessment
sebagai suatu proses mengidentifikasi, mendokumentasi dan menjustifikasi
kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa yang akan dihasilkan melalui
penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan. Definisi yang dikemukakan oleh
Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu,
mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai merupakan salah satu kegiatan yang
harus dilaksanakan dalam proses need assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi
tujuan dalam desain intruksional. Seorang desainer perlu menetapkan
kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak untuk dipecahkan sesuai dengan
kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala prioritas dalam need assessment.
Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah
terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group
Discussion, Q-Short, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini
digunakan untuk menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian
para ahli yang terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan
benar-benar hasil suatu studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
7. Merumuskan
masalah
Tahap
akhir dalam proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah
sebagai pedoman dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah
pada dasarnya merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang
ditentukan. Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang
biasanya tidak lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana
dikembangkan oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS
(Research Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar
belakang dan konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan
tujuan berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan
teknik yang dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang
harus dipecahkan.
makasih
BalasHapusSolder temperatur