Langsung ke konten utama

Analisis Karakteristik Peserta Didik


Analisis Karakteristik Peserta Didik

A.    Pengertian karakteristik peserta didik
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik peserta didik dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik tersebut. 

B.     Karakteristik peserta didik
Ada dua karakteristik awal yang perlu dipahami oleh guru, yaitu sebagai berikut:
1.      Latar belakang akademik
a.       Jumlah peserta didik     
Guru perlu mengetahui berapa jumlah peserta didik yang akan diajar untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah peserta didikakan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk mengetahui jumlah peserta didik, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b.      Latar belakang peserta didik
Pemahaman guru terhadap latar belakang peserta didik seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi, hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang peserta didikdapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh peserta didik.
c.       Indeks prestasi
Indeks prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan disajikan:
1)      Dapat disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
2)  Bahkan peserta didik yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas yang sama
3)    Guru juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang disampaikan dengan prestasi yang dimiliki peserta didik
4)     Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didikdapat di peroleh melalui nilai rapor sebelumnya atau seleksi kemampuan awal peserta didik yang diselenggarakan lembaga
d.      Tingkat intelegensi
Tingkat intelegensi peserta didikdapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi akademik (TPA). Memahami tingkat intelegensi peserta didik juga dapat mengukur dan memprediksi:
1)      Tingkat kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
2)      Mengukur tingkat kedalaman dan keluasan materi
3)      Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi peserta didik guru dapat menyusun materi, metode, media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap peserta didik
e.       Keterampilan membaca
Salah satu kecakapan yang harus dimiliki peserta didik dalam belajar adalah keterampilan membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca. Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca peserta didik dapat dilakukan melalui tes membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah ditentukan.
f.       Nilai ujian
Nilai ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal peserta didik. untuk memperoleh nilai ujian peserta didik perlu dilakukan tes kemampuan awal peserta didik terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g.      Kebiasaan belajar/gaya belajar
Aspek lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar peserta didik atau yang disebut dengan learning style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai peserta didik. Dalam proses pembelajaran, banyak peserta didik yang mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan peserta didik yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Seorang peserta didik yang senang membaca, kurang terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau berdiskusi. Demikian juga, peserta didik yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih lanjut, gaya belajar atau learning style sering diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman gaya belajar peserta didikperlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai oleh siswa.
h.      Minat belajar
Minat belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias peserta didik terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh penilaian yang mencerminkan tentang minat peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i.        Harapan/keinginan peserta didik
Harapan dan keinginan peserta didik terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan meminta peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya tentang harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang disajikan.  
j.        Lapangan kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal ini dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap peserta didik dalam upaya pencapaian cita-cita mereka inginkan.
2.      Faktor sosial
a.  Usia; faktor usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia peserta didikakan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau dewasa.
b.  Kematangan (maturity); kematangan juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani. Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
c.   Rentangan perhatian (attention span); rentang perhatian peserta didikadalah jumlah waktu normal peserta didikdapat berkonsentrasi dalam mendengarkan uraian pembelajaran.
d.  Bakat-bakat istimewa; sebagaimana dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat dikembangkan secara optimal.
e.     Hubungan dengan sesama siswa; berdasarkan penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan siswa, peserta didikdengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat proses belajar mengajar. Peserta didiktidak lagi menjadi objek didik tetapi telah tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik, proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar efektif. Oleh karena itu, memahami hubungan antar peserta didikmembantu guru dalam megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama peserta didikdalam belajar.
f.    Keadaan sosial ekonomi; pemahaman guru terhadap keadaan sosial ekonomi peserta didikjuga dapat membantu guru dalam menntukan pendekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan bahwa sebagian besar peserta didikmengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber belajar. 
 
C.     Manfaat memahami karakteristik peserta didik
1.      Memperoleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para peserta didik, yang berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat) bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu mudah atau tidak terlampau sulit bagi peserta didik untuk mempelajarinya. Yang lebih baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh peserta didik sebelumnya. Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara optimal.  
2.      Memporoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta didik dengan berdasarkan pengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan ilustrasi yang tidak asing lagi bagi peserta didik. Oleh karena itu, peserta didik akan lebih mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
3.  Mengetahui latar belakang sosial kultural para peserta didik, termasuk latar belakang keluarga, seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi dengan metode yang lebih efesien.
4.   Mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan peserta didik, baik jasmani maupun rohani. Tingkat perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara belajar peserta didik. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku yang harus diperoleh oleh peserta didik sebelum dia mulai membaca.
5.    Untuk menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara yang satu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
6.      Mengetahui aspirasi dan kebutuhan para peserta didik dengan cara itu guru dapat merancang strategi yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara individual maupun secara kelompok.  
7.  Mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh peserta didik sebelumnya. Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
8.   Mengetahui tingkat penguasaan bahasa peserta didik, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih mudah dipahami dan dicerna oleh peserta didik. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan kemampuan berbahasa para peserta didik agar terjadi komunikasi yang seimbang dan berhasil.
9.   Mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada peserta didik, bahan itu dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan pribadinya dalam proses belajar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Kebutuhan

Analisis Kebutuhan A.     Pengertian analisis kebutuhan Menurut Habibi (2015:1) menyatakan bahwa kebutuhan merupakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan. Hal ini mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Kaufan dalam Sihombing dan Marni (2012) menyatakan bahwa analisis kebutuhan dapat dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis kebutuhan merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang diperlukan oleh peserta didik sehingga pendidik mampu memenuhi kebutuhan tersebut. B.      Fungsi analisis kebutuhan         Menurut Morrison menjelaskan beberapa fungsi analisis kebutuhan, yaitu sebagai berikut: 1.    Mengidentifikasi...

Komponen Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran

Komponen Pendekatan Sistem dalam Pembelajaran A.     Konsep perencanaan sistem pembelajaran 1.       Pengertian perencanaan pembelajaran Menurut Affandi (2009:147) perencanaan merupakan proses penetapan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu yang diharapkan dapat menunjang kegiatan-kegiatan dan upaya-upaya yang akan dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Sama halnya dengan pembelajaran yang juga membutuhkan suatu perencanaan, agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai. Menurut Affandi (2009:149) menyatakan bahwa perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu rangkaian yang saling berhubungan dan saling menunjang antara berbagai unsur atau komponen yang ada didalam pembelajaran. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Banghart dan Trull dalam Affandi (2009:148) yang menyatakan bahwa perencanaan merupakan awal dari semua proses yang rasional, dan mengandung sifat optimisme yang didasarkan atas ke...

Desain Model Pembelajaran

Desain Model Pembelajaran A.     Pengertian desain pembelajaran Menurut Dick and Carey dalam Mudhofir (2016:1) menyatakan bahwa desain pembelajaran merupakan mencakup seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem yang terdiri dari analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Mudhofir (2016:1) menyatakan bahwa desain pembelajaran merupakan prosedur kerja yang digunakan dalam proses pembelajaran agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara baik dan menghasilkan output yang baik. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan sesuai dengan sintaks sehingga pelaksanaannya terstruktur dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai. B.      Kriteria desain instruksional Menurut Sanjaya (2008:67-69) menyatakan bahwa desain intruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan pes...